Kamis, 03 September 2015

Pak Jokowi Jangan Sombong, Teladanilah Kerendahan Hati Pak Setya


Banyak yang bilang Om Donald Trump sukses mempermalukan Pak Setya Novanto. Kata mereka, sudah namanya baru disebut pas acara sudah kelar, dikasih pertanyaan yang jawabannya menguntungkan Om Trump, bahunya dipegang kaya boss ke anak buahnya, eh sudah gitu Pak Setya ditinggal ngeloyor begitu saja. Padahal kan Pak Setya itu Ketua DPR RI, wakil rakyat yang menggelari dirinya sendiri “Yang Terhormat”
Buat saya, dipermalukan bukan berarti memalukan. Beda lho. Dicolek beda dengan mencolek. Dan Pak Setya bukan mempermalukan dirinya sendiri, tapi dipermalukan. Tapi, posisi Pak Setya di sini pun bukan sebagai obyek pesakitan. Pak Setya hanya memposisikan dirinya sebagai tamu dari bakal calon presiden negara adidaya. Bisa dikatakan Pak Setya menghormati tuan rumah dengan cara merendahkan dirinya. Bukankah kita dianjurkan untuk memiliki sikap kerendahan hati.
Kalau kita lebih jernih menilainya, pasti kita melihatnya sebagai strategi diplomasi yang dilancarkan Pak Setya kepada bakal Capres Amerika. Dengan sikap merendahkan diri tersebut, Pak Setya telah memperagakan manuver politik tercanggih yang tiada tara. Inilah strategi diplomasi yang tidak pernah diduga oleh lawan politiknya. Hasilnya, sungguh luar biasa, kata Pak Fadli Zon, Om Donald akan menanamkan investasinya di kecamatan Cigombong, Bogor. Hebat bukan! Mana mungkin Om Trump yang triliyuner mancanegara itu tahu ada kecamatan yang namanya Cigombong kalau bukan karena manuver canggih kedua beliau DPR ini..
Di sinilah Pak Jokowi seharusnya belajar strategi diplomasi kepada Pak Setya. Pak Jokowi seharusnya meneladani kerendahhatian Pak Setya.. Dengan begitu, ke depan pak Jokowi tidak lagi menyombongkan diri di hadapan kepala-kepala negara lainnya. Tidak usahlah Pak Jokowi ingin Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara lainnya. Apalagi caranya hanya dengan mempersoalkan letak kursi atau berdiri yang ogah dikasih tempat di pinggir. Memangnya ada apa dengan pojok. Apa Pak Jokowi takut kalau dipojok nanti pas fotonya dipajang bisa ketutupan oleh pigura.
Lihat tuh Pak Setya yang mampu mengajarkan banyak hal kepada rakyat Indonesia. Pertama jangan sia-siakan uang rakyat. Karenanya Pak Setya memanfaatkan kunjungan dinasnya yang dibiayai negara untuk melobi Om Trump agar mau membangun di Daerah Pemilihannya Pak Fadli.. Ini sebenarnya sindiran kepada Pak Jokowi yang tidak menyetujui usulan dana aspirasi DPR.
Kedua, sekalipun Pak Setya datang dari Indonesia yang penduduknya masih banyak yang miskin, tetapi Beliau tidak ingin dipandang rendah. Karenanya Pak Setya memakai arloji yang harganya milyaran Rupiah yang tentu saja lebih mahal dari jam Rolex yang dipakai Ustad Anis Matta. Dipakainya arloji merek Ricard Milles (nulis mereknya saja saya tidak bisa, apalagi membelinya) oleh wakil rakyat dari negara dunia ketiga ini pasti akan membingungkan dinas intelijen Amerika CIA. “Indonesia itu sebenarnya negara miskin, atau kaya, atau negara apa?” Kira-kira seperti itu pertanyaan CIA. Jadi ini mirip dengan oparasi penyesatan ala Overlord yang sanggup membuat bingung jenderal-jenderal Nazi, “Amerika dan konco-konconya itu mau mendarat di mana? Di sini atau di situ?”
Tetapi, apapun itu, lihatlah hasilnya. Tanpa perlu presentasi, tanpa perlu cuap-cuap layaknya orang MLM, dan hanya dengan modal merendahkan diri Pak Setya dan juga Pak Fadli telah mampu menarik investasi asing ke Cigombong. Ini yang harus diteladani oleh Pak Jokowi. Sekali lagi, yang dilakukan Pak Setya dan Pak Fadli adalah merendahkan diri, dan bukan mempermalukan diri, apalagi mempermalukan negara dan bangsa.  
Sebagaimana Pak Setya dan Pak Fadli yang terhormat, Pak Jokowi juga jangan marah kalau dikata-katai sebagai antek asing. Biarkan saja kalau kader dakwah warga negara Turki mengata-ngatai Pak Jokowi sebagai antek asing aseng asong freemason, illuminati, yahudi, zionis, komunis, atau penyanyi antek CB. Pak Jokowi harus menghiraukan itu semua. Dan harus berpikir sekelas Pak Fadli yang sanggup mendatangkan investasi asing ke Cigombong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar